![]() |
| Di balik riuh pembangunan daerah, sebuah potret kemiskinan ekstrem mencuat dari Kampung Jelupang Wetan |
SERANG – Bpanbanten.com || Di balik riuh pembangunan daerah, sebuah potret kemiskinan ekstrem mencuat dari Kampung Jelupang Wetan, Desa Sindangheula, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang. Sebanyak sembilan jiwa terpaksa berbagi ruang di sebuah rumah yang sudah setengah roboh dan jauh dari kata manusiawi.
Kondisi rumah milik Kusnadi, seorang buruh serabutan, kini sangat mengkhawatirkan. Dinding bangunan yang lapuk dan atap yang bocor menjadi saksi bisu perjuangan keluarga ini bertahan hidup selama lebih dari 10 tahun. Saat hujan deras melanda, rumah tersebut tak ubahnya kolam penampungan air; penghuni harus berjibaku menaruh ember di sana-sini demi menghindari banjir di dalam rumah.
Yang lebih memprihatinkan, dari sembilan penghuni tersebut, terdapat dua orang lansia. Satu di antaranya kini hanya bisa terbaring lemah akibat sakit tanpa mendapatkan penanganan medis yang layak. Keterbatasan ekonomi membuat pengobatan menjadi kemewahan yang tak terjangkau bagi mereka.
Kisah ini semakin ironis mengingat lokasi tersebut sebenarnya bukan titik buta. Pemerintah Desa, Dinas Perkim Kabupaten Serang, Perkim Provinsi Banten, hingga Kementerian Sosial dilaporkan sudah pernah menginjakkan kaki di sana untuk melakukan survei. Namun, hingga detik ini, janji perbaikan hanyalah menjadi tumpukan berkas tanpa realisasi nyata di lapangan.
"Kami hanya ingin tempat bernaung yang aman. Setiap cuaca ekstrem, kami selalu was-was bangunan ini akan rata dengan tanah," ungkap salah satu sumber di lokasi.
Kusnadi dan keluarganya adalah potret nyata masyarakat yang terhimpit di garis kemiskinan ekstrem. Mereka kini hanya bisa berharap adanya langkah konkret—bukan sekadar peninjauan ulang—dari pemerintah maupun dermawan.
Selain kebutuhan mendesak akan perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), penanganan medis segera bagi lansia yang sakit menjadi prioritas utama untuk menyelamatkan nyawa.
Kisah dari Jelupang Wetan ini menjadi pengingat keras bagi semua pihak bahwa di sela-sela kemajuan zaman, masih ada warga yang bertaruh nyawa di bawah atap yang hampir rubuh.
RLS

