![]() |
| PWI Kota Tangerang Kritik Standar Ganda Panitia Tangcity: "Katanya Tak Melarang, Tapi Wartawan Dihalang-halangi |
KOTA TANGERANG – Bpanbanten.com || Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Tangerang angkat bicara menyusul polemik pembatasan peliputan dalam acara santunan “1000 Keberkahan Ramadan” di kawasan Tangcity Mall, Jumat (6/3/2026). PWI menilai ada kontradiksi nyata antara pernyataan panitia dengan fakta yang dialami jurnalis di lapangan.
Ketua PWI Kota Tangerang, R Herwanto, menegaskan bahwa dalih "undangan terbatas" yang disampaikan panitia tidak boleh menjadi tameng untuk menghambat kerja jurnalistik.
“Secara narasi mereka bilang tidak melarang, tapi faktanya wartawan yang datang justru tidak diizinkan meliput karena tidak ada di daftar. Ini catatan serius bagi kami. Jangan sampai ada kesan media sengaja dipilih-pilih atau dikotak-kotakkan,” ujar Herwanto, Minggu (8/3/2026).
Sebelumnya, pihak panitia melalui perwakilannya, Iner, mengklaim bahwa pembatasan dilakukan murni karena kendala teknis dan kapasitas ruangan di Grand Ballroom Novotel Tangerang. Ia menyebut hanya menyediakan slot untuk 20 hingga 30 media yang telah diundang secara resmi.
Namun, alasan tersebut dinilai tidak relevan oleh insan pers yang hadir di lokasi. Beberapa wartawan melaporkan tetap dilarang masuk meski hanya untuk mengambil dokumentasi kegiatan sosial tersebut.
Herwanto menyayangkan pola komunikasi panitia yang terkesan tertutup. Menurutnya, kegiatan santunan 1.000 anak yatim adalah aksi mulia yang seharusnya didukung oleh publikasi yang luas dan inklusif, bukan justru dibatasi secara eksklusif.
“Kegiatan ini sangat positif, tapi cara penanganan medianya harus dievaluasi. Kami berharap penyelenggara, baik swasta maupun instansi lain, bisa lebih profesional dan terbuka. Hubungan dengan pers harus dibangun atas dasar kemitraan, bukan sekadar urusan teknis undangan,” tegasnya.
PWI Kota Tangerang berharap insiden ini menjadi pelajaran bagi penyelenggara acara di wilayah Kota Tangerang agar ke depan tidak lagi terjadi miskomunikasi yang mencederai kebebasan pers dalam mencari informasi.
“Ke depan, kami mendorong adanya komunikasi yang lebih baik dengan organisasi wartawan di daerah agar kegiatan positif seperti ini tidak berakhir menjadi polemik di kalangan insan pers,” pungkas Herwanto.
