![]() |
| Foto Sekolah |
Lebak - Bpanbanten.com || Orang tua murid nilai Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Lebak dan Bupati Lebak Banten dinilai tidak peduli dan pilih kasih terhadap murid sekolah yang berada di pelosok, hal itu akibat puluhan tahun ratusan murid Sekolah Dasar (SD) dibiarkan kekurangan guru dan belajar berdesakan.
Diungkapkan salah seorang wali murid di SDN 2 Lebak gedong kecamatan Lebak gedong Kabupaten Lebak, yang mengaku bernama As bahwa sejak puluhan tahun sekolah didirikan hingga kini sekolah tersebut dibiarkan pemerintah kekurang guru.Sehingga para orang tua murid merasa kualitas keilmuan pendidikan yang diterima para murid benar - benar tertinggal tidak seperti murid - murid di sekolah lain yang berada di perkotaan.
" Sejak SD ini didirikan hingga kini selalu kekurangan guru mungkin Disdik dan Bupatinya tidak peduli, padahal anak -anak kami juga sama berhak mendapat didikan yang layak dari para guru ", ungkapnya.Rabu (14/10/2026).
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dengan jumlah murid ratusan di SDN 2 Lebak gedong hanya di didik oleh dua orang guru pengajar non PNS dan satu PNS yaitu Kepala Sekolah hal itu sangat tidak benar dan sangat tidak mungkin satu sekolah dengan murid banyak bisa terkelola dengan benar dan juga sangat tidak mungkin Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak tidak tau kondisi tersebut.
" Kami berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak atau Bupati Lebak peduli kepada pendidikan anak-anak dipelosok dengan cara segera mengirim guru-guru PNS kesekolah ini ", tambahnya.
Masih menurut dia, selain kekurangan guru pengajar sekolah itu juga kekurangan ruang kelas karena sekolah SDN 2 Lebak gedong ini hanya memiliki tiga ruang kelas dan satu ruang kecil untuk para guru.Jadi menurut kami benar-benar sangat tidak layak, tidak manusiawi karena satu ruang kelas di bagi dua atau satu ruangan dijadikan dua kelas bagaimana anak-anak bisa belajar dengan benar.
" Selain kekurang guru, sekolah juga kekurangan ruang kelas, karena hanya memiliki tiga ruang kelas jadi setiap satu ruangan dijadikan dua kelas ", pungkasnya.
Sementara Sali selaku Kepala Sekolah ketika akan dikonfirmasi sedang tidak ada di tempat, sedangkan menurut Budi dan Eko selaku guru non PNS di sekolah tersebut ketika dikonfirmasi diruangannya mengakui bahwa sekolahnya kekurangan tenaga guru, karena untuk jumlah murid sebanyak seratus tujuh (107) siswa sekolah ini hanya kami guru berdua dan satu kepala sekolah saja, sehingga benar-benar sangat repot, terlebih ketika salah satu guru harus mengikuti rapat atau kegiatan lainya.
" Betul sekolah ini kekurangan guru dengan jumlah murid sebanyak 107 orang kami benar-benar kerepotan ", terang keduanya.
Adapun mengenai kurang ruang kelas, kami terpaksa menggunakan metode satu ruangan dibagi menjadi dua atau satu ruangan di isi dengan murid dua kelas.
" Agar Kegiatan Belajar Mengajar terus berjalan maka satu ruangan di bagi menjadi dua kelas ", pungkasnya.(FIK)
